Amerika Serikat Menegaskan Jamaah Ikhwan bukan Organisasi Teroris

 

WASHINGTON (voa-islam.com) – Terjadi perubahan global sesudah meninggalnya Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz, dan digantikan Raja Salman bin Abdul Aziz, kemudian melakukan perubahan besar-besar dalam pemerintahannya.

Dengan lahirnya kepemimpin baru di Arab Saudi, di bawah Salman berembus angina perubahan, dan berdampak terhadap Jamaah Ikhwanul Muslimin di Mesir dan seluruh dunia.

Jamaah Ikhwan telah ditetapkan oleh pengadilan Mesir, sebagai organisasi teroris. Semua assetnya di sita. Pemerintah Mesir juga melakukan larangan segala bentuk aktifitas yang dilakukan oleh Jamaah Ikhwan. Bahkan, penguasa baru Mesir, rezim militer di bawah Marsekal Abdul Fattah al-Sisi, mendorong negara-negara Arab dan Teluk, mengikuti langkah Mesir, bahwa Ikhwan sebagai organisasi teroris.

Mesir meminta bantuan Interpol agar melakukan penangkapan terhadap tokoh-tokoh Ikhwan, termasuk ulama terkemuka kelahiran Mesir, yang sekarang ini menetap di  Qatar, Sheikh DR.Yusuf Qardawi.

Bahkan, karena sikap pemerintah Qatar yang tidak mau tunduk dengan Mesir dan Arab Saudi dibawah Abdullah itu, kemudian Qatar dikucilkan. Kemudian diiukuti langkah-langkah pengucilan terhadap Qatar dengan menarik perwakilan Duta Besar mereka dari Qatar. Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Kuwait, menarik Duta Besar mereka dari Doha.

Namun, bersamaan dengan kematian Raja Abdullah bin Abdul Aziz, dan digantikan oleh Raja Salman bin Abdul Aziz, sekarang segala menjadi berubah. Sekarang al-Sisi dan sejumlah pejabat Arab  Saudi menghadapi berbagai gugatan, di mana seorang pangeran meminta agar menyelidiki penggunaan dana $20 miliar dollar kepada Mesir, dan jatuh ke tangan para jendral.

Salman sudah mencopot semua pejabat yang terkait dengan persekongkolan menghancurkan Ikhwan di Mesir, termasuk Tuwaijiri yagn sangat dekat dengan Mesir. Sekarang poros Riyadh, Doha dan Ankara, menjadi sebuah poros baru. Di mana antara Raja Salman bin Abdul Aziz, Raja Qatar dan Erdogan menjadi poros baru di Timur Tengah, dan nampaknya akan mengubah peta politik seluruh kawasan.

Sementara itu, sampai hari ini, Erdogan tidak mau mengakui al-Sisi, dan tetap mengakui  Presiden Mohammad Mursi, sebagai presiden Mesir yang sah, hasil pemilihan umum, dan mendapatkan dukungan lebih dari 60 persen saura rakyat Mesir.

Sejalan dengan perubahan yang terjadi di Kerajaan Arab Saudi, pemerintah Amerika Serikat mengkonfirmasi bahwa Jamaah Ikhwanul Muslimin bukan “organisasi teroris”, ungkap Departemen Luar Negeri Amerika Serikakt.

Juru bicara Marie Harf mengatakan bahwa Ikhwanul Muslimin tidak sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat, ujarnya. Harf mengatakan: “.. Saya pikir itu dikaitkan dengan hukuman kelompok revolusioner. Dan pesan yang terkandung dalam video ini tentu terkait serangan pekan lalu di Sinai.

Jamaah Ikhwan di Mesir sudah mengeluarkan pernyataan resmi terkait di Sinai, dan menolak aksi kekersan. Namun, kekerasan di Sinai itu, hanyalah akibat dari aksi kekerasan yang dijalankan oleh al-Sisi terhadap penduduk Sinai, yang begitu kejam dengan membakar dan meroboh rumah mereka di sepanjang perbatasan Mesir.

Pemerintah Amerika Serikat menururt Harf menambahkan akan  mencari informasi lebih lanjut tentang pernyataan jihad. “Kami akan mengutuk setiap seruan kekerasan, dan tidak berbicara lebih banyak soali itu”.

Jamaah Ikhwan akan tetap berdakwah, dan tidak pernah terpengaruh dengan kondisi apapun. Ada pengakuan dari Amerika atau tidak, Ikhwan akan melaksanakan misi mendakwahkan al-Islam kepada seluruh umat manusia.  (dimas/mem/voa-islam.com)

Advertisements