Fitrah wanita, antara romantisme cinta dan gemilang harta

Saat ditiupkan ruh, kita berada di perut wanita. Ketika menangis, kita berada di pelukan wanita. Ketika jiwa kita dirudung rindu, kita berada di hati wanita. Bersyukur bagi siapapun yang mampu memuliakan kaum wanita.

Wanita itu sumber energi sekaligus malapetaka. Oleh karena itu, hak qawwamah (kepemimpinan) terhadap wanita berada di tangan pria. Dimana kewajiban kaum pria baik yang menjadi ayah, suami, atau anak laki-laki berkewajiban menuntaskan proses tarbiyyah (pembinaan), perbaikan, dan menunaikan seluruh kewajiban terhadap kaum wanita mulai dari perlindungan, pemenuhan kebutuhan dan hasrat.

Ar-Rajul yuhkamu billisaan wal mar’atu tuhibbul maal. Pria itu dinilai dari perkataan. Sedangkan wanita itu kodratnya pecinta harta kekayaan.

Wanita itu ibarat senar-senar gitar. Perlu keahlian seorang pria untuk memetik dawai-dawai gitar. Salah saja memetik dawai gitar, berakibat fatal. Wanita akan menjadi sumber petaka padahal sebelumnya ia pengantar bidadari surga. Wanita perlu disikapi dengan seni. Pria wajib menjadi seniman.

Lihatlah, wanita itu mudah sekali berubah pikiran saat ayah, suami, atau anak laki-lakinya mengatakan: lelah, tidak punya uang. Wanita bisa memberontak dalam diam dan melakukan apapun yang bisa membuatnya terpuaskan.

Dalam buku An-Nisaa wal Maal, tim penulis menegaskan, “Keberlimpahan harta, membuat wanita memiliki kebanggaan di atas rata-rata wanita biasa. Lumrah terjadi, jika seorang istri meminta harta maka akan diiringi dengan permintaan lain, plus sekeping cinta. Saat suami menolak atau enggan memenuhi, wanita acap menganggapnya sebagai penghinaan, pelecehan, dan tentu merasa dinomorduakan.”

Dengan demikian, seorang ayah, suami, atau anak laki-laki harus memperhatikan sisi-sisi kejiwaan wanita yang memang fitrahnya menyukai harta. Seorang laki-laki harus lebih berdaya atau jangan sampai berada di bawah standar harapan wanita. Memang sesekali wanita akan mengobral kata cinta. Tapi ketahuilah, obral cinta itu demi meraih kepuasan harta. Sebaliknya dengan laki-laki, ia mengobral harta benda demi meraih sekuntum cinta.

Namun semua analisa di atas berubah total jika wanita itu bermental baja agama tershibghoh tarbiyah Rabbaniyah. Saya ada kawan yang habis di-PHK di tempat kerjanya. Sedangkan sang istri yang berparas ayu dan berpenghasilan lebih besar, membuka pintu rumahnya dengan lapang dada.

Sang istri menutup berita PHK suaminya rapat-rapat. Agar orangtua istrinya tidak mengendusnya, sang istri menyiapkan pakaian rapi berdasi setiap paginya. “Yang, dikau pergi setiap pagi. Keluar rumah, terserah kemana saja cari inspirasi. Lalu pulang sore seperti biasa. Ini buat uang makan siang dan belanja oleh-oleh sore. Soal kebutuhan, penghasilan umi masih cukup!”

3-6 bulan sang suami melakukan apa yang disarankan istrinya. Setiap pagi dia berangkat, lalu beri’tikaf di masjid besar. Lepas sore, ia pulang membawa buah tangan. Allah menjawab ketabahan istrinya, sang suami diterima bekerja di salah satu perusahaan milik Jepang dengan penghasilan mengalahkan istrinya. Tak lama kemudian, ia berhasil memberangkatkan umroh istri dan mertuanya.

Demikianlah wanita. Ia akan memberikan apapun yan ia miliki dan siap melakukan apapun dengan penuh tanggungjawab, asalkan ia merasa aman dan nyaman berada di samping seorang pria. Wanita bisa saja menikahi seorang pria, namun saat tak lagi merasa aman, ia akan segera mundur tanpa berita. Maka sekali lagi, kaum pria harus memiliki standar akhlak-harta-dan setia. Siapkah?

Advertisements