Sadarkah anda dengan tanggungjawab?

Assalamu’alaikum ikhwah fillah…

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah yang telah menghidupkan dan mematikan seluruh mahluk yang ada disemesta ini, termasuk kita semua. Dan sholawat beriring salam tercurahkan kepada Manusia Agung penuh tauladan yaitu Nabi Muhammad SAW, semoga kita semua kelak memperoleh syafaatnya di yaumil akhir. Aaminn…

Di suatu hari ada seorang nenek yang tampak lusuh dengan segebok kayu dipunggungnya. Walau hari itu tampak panas dan keringat sudah mengalir membasahi tubuh dan pipinya, akan tetapi ia tampak bersemangat menyusuri jalanan. Tidak lama kemudian melintas sebuah mobil dengan kecepatan tinggi. “Pyuuuurrrrrr…. Woiii, dasar nenek sinting, jangan jalan sembarangan”. Lelaki gagah lengkap dengan jas dan dasi rapi itu memaki-maki dengan wajah marah dan kesal. nenek yang basah kuyup itupun membalas dengan senyuman tenang.

Ikhwah Fillah…

Terkadang hebatnya kita, kesuksesan kita, harta kita, seringkali membuat kita menjadi lengah dalam berperasaan. Tak lagi mengenal lawan bicara, tak lagi melihat usia, tak lagi punya rasa menghargai, inginnya terus dilihat dan dihargai. Apakah kita pernah seperti itu, ikhwah ???

Mari beristighfar….

Astaghfirullah….Astaghfirullah…Astaghfirullah….

Siapa kita ini, sepertinya hanyut dengan kesibukan dunia, lupa dengan tanggungjawab. Boro-boro bicara tentang bagaimana agar bermanfaat untuk orang lain, kewajiban untuk diri sendiri saja masih sering terlalikan. Mungkin anda saat ini adalah orang yang berhasil, sukses, punya banyak cita-cita, pengen ini itu mudah memperolehnya. Tapi keberhasilan anda tidak bisa dirasakan oleh banyak orang, keberhasilan anda tidak membuat orang lain bahagia melaikan membuat orang lain malah sengsara. Sesekali pernahkah anda berfikir sejenak tentang nasib orang-orang yang ingin makanpun susah, serba pas, pas beli baju pas dipakai terus untuk 3 tahun. kumuh, kumal, dan lain sebagainya (anda bisa gambarkan sendiri).

Huuuuuuhhhhhh….. Coba anda lepaskan nafas anda dengan perlahan…. Kembali tarik nafas anda, tahan beberapa saat….dan lepaskan secara perlahan. Huuuuuuuuuuhhhhhhhhh……

Kurang apakah kita ini? Allah sudah berikan kepada kita banyak kesempatan berharga, Allah sudah berikan kepeda kita kelebihan yang tidak sedikit, tapi rasanya banyak orang diantara kita masih kurang pandai bersyukur. Buktinya masih banyak orang di indonesia mati karna kelaparan, warga miskin makin merebah dimana-mana, dan korupsi menjadi kebiasaan yang tidak tertinggalkan.

Saudaraku, ingatkah anda dengan kisah Umar bin khattab dan seorang ibu yang berpura-pura memasak untuk anaknya? Suatu ketika Umar mendengar tangisan seorang anak yang tak kunjung henti. Umarpun datang mendekati sumber suara itu. Lalu umar melihat dari jauh seorang ibu yang sedang memasak. Umarpun mencoba mendekati dan melihat ibu itu mengaduk aduk kuali. Setelah umar mendekati dan melihat kuali itu ternyata isinya hanyalah BATU.

“Wahai ibu, kenapa engkau rela membohongi anak-anakmu. Kenapa engkau tidak buatkan makanan atau menyusui mereka? Tanya umar.

“Wahai amirul mukminin, kami ini hanyalah orang kecil yang tak dilihat banyak orang. Kami tidak lagi memiliki makanan, susu ku juga sudah kering. aku sengaja melakukan ini dihadapan anak-anakku agar mereka mengira bahwa aku sedang membuatkan makanan untuk mereka dan mereka bisa kembali tidur. Jawab ibu tersebut dengan tangisan. 

Tak mampu menahan haru, umar-pun menangis dan kembali kerumahnya dengan penuh rasa sesal dan kesal. ia menyesali dan kesal karena  dimasa kepemimpinannya ternyata masih ada orang yang hampir mati karena tak bisa makan. Umarpun kembali kerumahnya dan menyuruh budaknya untuk menyiapkan beberapa karung kebutuhan pokok dan makanan. Umar mengangkat seorang diri.

“Wahai amirul mukmini, biarlah kami yang membawakan barang-barang ini. dan untuk apakah engkau membawa sebanyak ini?” Tanya budaknya.

“Sesungguhnya aku telah menyakiti saudaraku sendiri, maka biarkanlah aku menebus semua ini untuknya.” tegas umar.

Ikhwah fillah, saudaraku yang dirahmati Allah…

Apakah anda sadar betapa hebatnya perasaan umar bin khattab kepada rakyatnya. Perasaan yang mampu menggerakkan hati dan fikirannya untuk menghukum dirinya sendiri, perasaan yang bisa membuat ia melakukan pekerjaan seorang budak, perasaan yang bisa membuat ia mencintai saudaranya sendiri. Kenapa ia rela melakukan semua itu, jawabannya adalah karena ia sadar tentang tanggungjawab. Yaitu tanggungjawab kepada Allah, tanggungjawab kepada dirinya sendiri dan tanggungjawab kepada orang lain.

Lalu bagaimana dengan kita? sudahkah kita memenuhi hak-hak kita, memenuhi hak-hak saudara kita, memenuhi hak-hak orang yang meminta bantuan kepada kita. Beristighfarlah….

Astaghfirullah… Astaghfirullah… Astaghfirullah…

Semoga tulisan yang singkat ini dapat membuka hati kita dan berbuah kebaikan. Wallahu a’lam….

Nurtiyas SE

~ Abyad Al-Qasim ~

Profil Penulis: KLIK DISINI

Advertisements