Dialah penyambung harapan yang sempat terputus sesaat

Bismillahirahmaanirahiim…

Mungkin masih ada yang menunggu cerita tentang bagaimana akhirnya Allah mendekati hambanya yang menangis ditengah malam karena mengadu atas segala ujian yang ditimpakan untuknya. Inilah lanjutan cerita dari tulisan sebelumnya yang berjudul “Tuhan datang saat hamba mengangis”.

NANAR melihat euforia perkumpulan mereka, teman-teman yang selama setahun ini menemani saya untuk belajar agama lebih jauh. Sepertinya mereka semua sedang menikmati masa-masa indah saat kuliah.

Tak ada rasa sesal dengan ujian yang Allah berikan untuk saya, walaupun hati masih terasa amat berat karena sebentar lagi harus keluar dari perkuliahan. Setelah semalaman bermunajat dengan penuh rasa pasrah, saatnya mengambil langkah ikhtiar. Saya menerima permintaan ibu untuk tidak meneruskan kuliah, tapi dengan syarat saya tidak akan balik ke kampong halaman. Walaupun ibu memaksa saya untuk tetap segera pulang kampung. Tentu sangat menyakitkan rasanya jika harus pulang dengan beban tanpa bekal kebahagiaan untuk orang tua.

Perasaan tidak terima masih saja menghantui, ditambah perasaan sedih ternyata belum juga sembuh. Karena perkuliahan semester dua belum selesai, oleh karnanya saya berinisitif untuk terus kuliah sampai dengan selesainya semester itu. Hitung-hitung sembari mencari solusi yang tepat untuk menuntaskan masalah ini. Pagi itu selepas sholat dhuha saya merenung sejenak. “Kenapa saya gak kuliah sambil kerja aja ya…., Tapi saya harus ngaji, berorganisasi, apalagi saya lagi mencalonkan diri jadi ketua FMI, Mana mungkin bisa kerja. Semua itu pasti sulit diatur dalam waktu yang bersamaan”. Ucap dalam hati. Pilihan-pilihan sulit harus saya lalui. Dan sampai pada keputusan bahwa saya akan mengundurkan diri dari pencalonan ketua Forum Mahasiswa Islam dan organisasi dakwah itu, agar bisa fokus kuliah, kerja dan liqo saja.

“Assalamu’alaikum ust, afwan ana mengganggu. Sepertinya ana tidak bisa meneruskan jadi calon ketua FMI ditahun ini. Dan saya juga mau keluar dari organisasi. Orang tua menyuruh ana berhenti kuliah karena (…), tapi in shaa Allah saya Akan tetap ikut ngaji kok ust. Afwan ya sebelumnya.” bla bla bla saya jelaskan sejelas-jelasnya.

Begitulah kurang lebih SMS yang saya kirimkan ke Pembina dakwah kami. Tidak lama kemudian beliau menelphone dan mengajak saya untuk bertemu secara langsung dikantornya. Kata-kata nasehat itu mulai terurai dari lisannya bak mutiara yang saya nanti-nantikan. Jujur hati saya saat itu terus berdebar-debar. Tapi tetap saja saya harus menyampaikan secara gamblang permasalahan hidup ini kepada beliau agar tidak terjadi kesalah pahaman.

Didalam menara yang menjulang tinggi penuh dengan aktifitas orang kantoran yang serba rapih, saya ikut memenuhi undangan Pembina kami. Setelah sholat ashar kami bertemu ditempat yang telah disepakati, dikantin Basement gedung ET.

“Assalamu’alaikum akhi”. Sembari memeluk saya dengan tampak turut berduka.

Setelah berbincang-bincang secara ringan, akhirnya saya menyampaikan segala hal yang menjadi penyebab saya harus keluar dari kuliah dan organisasi. Tak mampu menahan sedih saat bercerita, saya pun menangis dihadapan beliau. Memang itu waktu yang tak pernah terlupakan dalam hidup. Dengan sabar beliau terus mendengarkan cerita saya. Dan mulailah beliau memberikan nasehat dan solusi untuk permasalahan hidup saya. Singkat cerita Alhamdulillah atas izin Allah,  beliau memberikan beberapa referensi sumber dana dan pekerjaan untuk saya disalah satu yayasan keagamaan yang sudah beliau dirikan sejak tahun 2000an.

Saudaraku yang dirahmati Allah…

Saat malam itu Allah berkenan mendengarkan do’a-do’a saya, maka saat itu pula saya yakin bahwa Allah telah menyiapkan jalan terbaik untuk saya. Yah semua permasalahan kuliah seketika bisa dituntaskan pada hari itu juga, saya juga tetap bisa meneruskan pencalonkan sebagai ketua FMI dan semua kegiatan organisasi dakwah tetap bisa saya ikuti. Saya tidak lagi khawatir untuk biaya kuliah, akan tetapi karna dana yang serba terbatas saya harus belajar hidup lebih hemat lagi. Dialah menjadi penyambung harapan yang sempat terputus sesaat. Dan saya senantiasa berdo’a agar beliau terus diberikan keberkahan dalam hidup, dilapangkan rejekinya, dan diberikan kebahagiaan dalam rumah tangganya oleh Allah SWT. Aamiin…

“Permasalahan hidup yang berat pasti ada, tapi bukankah Allah sudah menyiapkan jalan terbaik untuk hamba yang senantiasa dekat dengan-NYA???” ~Abyad Al-Qasim~

Mabit

Profil Penulis: KLIK DISINI

Advertisements