Tuhan datang saat hamba menangis

Di pagi yang cerah itu matahari memancarkan cahaya yang indah. pepohonan yang rindang tenang membuat suasana lebih nyaman. Tapi tidak dengan suasana hati dan jiwa saya. Handphane berbunyi sekitar pukul 06.00. Saya melihat ibu yang menelphone, spontan langsung saya angkat. Tak seperti biasa ibu menelphone pagi-pagi. Setelah berpanjang lebar mendengarkan cerita dari ibu, sampai pada point perbincangan bahwa saya tidak bisa lagi melanjutkan kuliah. Seketika saya terdiam tanpa kata. “Halo… nak, haloo…kok diam saja” Begitu tutur ibu dengan suara sedikit cemas. Di semester 2 perkuliahan itulah saya merasakan pukulan hidup yang sangat keras. Secercah harapan yang pernah saya tuliskan dengan tinta air mata pun harus dihapus dengan cerita singkat itu. 

Pagi, siang, malam menjadi waktu yang tidak menyenangkan hati. Ke sevel, ke tempat makan, ke mall, semua tidak ada yang bisa menenangkan hati. Tak ada teman tak ada kawan yang nyaman untuk mengadu. Sepertinya sudah pupus semua harapan. Adzan isya’ berumandang, saya harus segera mengambil air wudhu. Sebenarnya sewaktu itu saya sedang mencalonkan diri sebagai ketua Forum Mahasiswa Islam disalah satu kampus swasta. Jadi bisa dibilang lagi semangat-semangatnya menuntut ilmu dan jelas sangat disayangkan kalau sampai benar keluar dari kampus. Iqomah sudah dikumandangkan dan semua jama’ah bergegas untuk menunaikan sholat isya’. Seusai sholat isya’ berjamaah di masjid Nurul Iman Mall Blok M kebetulan ada kajian. Iseng-iseng mendengarkan ceramah dari ustadz.

“Tidak ada masalah yang tidak bisa dituntaskan…., Kalau kita sedang dirundung masalah maka bertawakallah kepada Allah. Karena Allah yang lebih tau tentang masalah kita, dan tentunya Allah yang lebih tau mana solusi terbaik untuk hamba-hambanya”.  Bapak-bapak selama ini kalau lagi ada masalah kemana bapak pergi? ke mall, ke pasar, ke dukun, atau ke pantai? itu mau menuntaskan masalah atau menambah masalah?  Ucap ustad itu dengan sedikit canda.

Seketika perkataan ustad membuat saya menjadi semakin fokus dan termenung. Seperti kembali ada secercah cahaya harapan. Seolah-olah ustad itu menegur dan menasehati saya secara langsung.

Ditutup dengan ayat qur’an yang sampai saat ini masih melekat didalam hati.

“Wamaan ya taqilaha yajallahu mahraja, wayarzuqhu minhaitsu layahtasib…Wamaan ya tawaqal alallahi fahuwa hasbuhu inalallaha baliqu amrihi  qadjal lallahu liquli syaiin qodir..” (Surat Talaq ayat 2-3)

Artinya:

“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah SWT, akan diberikan kelapangan dan rezeki yang tidak terduga…Barang siapa yang bertawakal pasti akan dijamin-Nya…..Sesungguhnya Allah itu sangat tegas dengan perintahnya…Dia-lah yang mentakdirkan segala sesuatu..”  

Allahu Akbar… takbir didalam hati saya….

Saya pun pulang dengan membawa keyakinan penuh dan atas apa yang saya alami adalah salah satu bentuk ujian yang harus segera dituntaskan. Sesampainya dikontrakan, tergelar sajadah dan siap bermunajad kepada Allah. Bermula dengan membasuh muka dengan Air wudhu, Alhamdulillah hati terasa lebih tenang. Malam itu menjadi saat-saat indah untuk berduaan dengan Dia. Tak tahan dengan rasa sedih dan haru, air matapun menetes membasahi seluruh pipi. Malam penuh do’a dan munajat ditutup dengan perasaan ikhlas, pasrah atas apa yang Allah telah timpahkan dalam kehidupan saya dan keluarga. Ternyata ke-esokan harinya, Allah menjawab atas apa yang telah saya adukan semalaman…

Seperti apakah Allah menjawab dan mendatangi hambanya yang lemah? In shaa Allah akan saya teruskan pada tulisan berikutnya… Jazakumullah sudah mampir di website saya. Jangan Lupa baca-baca artikel lain diwebsit ini dan Like atau Share ya….

Semoga membawa manfaat….

m6GYulby

~ Abyad Al-Qasim ~

Profil Penulis: KLIK DISINI

Advertisements