Mendekatlah, selagi kaki masih mampu berjalan

Mentari yang memberikan penerangan pada penduduk bumi ini adalah nikmat yang pantas  di syukuri. Malam yang hangat terasa teduh menentramkan jiwa di tambah keindahan alam yang membuat mata terus ingin memandang. Segudang aktivitas telah mengalihkan perhatian pada itu semua. Cahaya, kegelapan, dan keindahan seolah tak lagi menjadi perhatian manusia.

Mata yang nanar itu menjadi tanda bahwa ia tak ingin hanyut dalam fatamorgana. Kehadirannya disepertiga malam meneduhkan hati, menentramkan jiwa. Apalah gerangan yang membuat semua berubah pada jalan yang beragam? Padahal semua tau tentang hak dan kewajibannya. Tanda kekuasaan telah banyak didapati, tapi langkah tak sejalan dengan pengetahuan.

Embun pagi menyejukkan suasana pekat berkabut. Masih saja manusia terlelap dengan dunia yang tak diyakininya. Sampai kapan kemerosotan iman itu dapat diatasi sementara tak ada lagi hidayah yang datang dari Tuhan-Nya.

Mendekatlah, selagi kaki masih mampu berjalan. Karena hari esok belum tentu akan menjadi keberuntungan. Suara adzan akan dirindukan, suara takbir akan terus di idamkan. Tapi sayang masa itu telah habis diujung kemalangan. Tak dapat lagi berkata, membangkang, tertawa, karena maut telah memisahkan dua dunia yang berbeda.

Selamat menjalankan ibadah puasa, perbanyak do’a dan diakhiri dengan taubatan nasuha….

~ Nurtiyas || Abyad Al-Qasim

 

 

Advertisements