Bumi tempat berdakwah

Kehidupan ini memang tidak mudah untuk dilalui, sangat berat walaupun hanya sekedar ingin bertahan pada kebaikan-kebaikan yang sama. Bagaimana bisa meningkatkan kualitas hidup jika keadaannya seperti ini terus. Kadang kala sendiri membuat hati menjadi tenang, tapi lebih banyak terseret pada arus kemaksiatan. Seorang teman mengatakan “Kalau berjamaah saja kamu begitu lemah, bagaimana jika kamu berjalan seorang diri.”

Sebenarnya banyak ibrah yang bisa diambil dari sejarah perjalanan hidup para guru-guru peradaban, sampai guru kehidupan. Tapi rasa malas, rasa kantuk saat belajar membuat semua menjadi cepat pergi dari ingatan. Sesaat bisa kita mengerti, sesaat semua menghilang.

Kemarin pagi saya mendapat broadcast WA dari seorang teman, berbicara tentang Sang Guru Kehidupan. Mungkin sebagian orang menganggap dia (yang ada dalam pesan itu) adalah seorang koruptor, tapi banyak orang menggap dia seorang Guru Kehidupan. Bagaiman bisa? Kenyataanya dia mampu memberikan banyak perubahan positif untuk orang sekitarnya, pastinya dalam hal mengenal Tuhannya. “Jika kita gembira harus dibagi-bagikan kepada orang lain. Namun jika kita sedih, jangan dibagi-bagikan kepada siapapun. Tapi cukup mengadu kepada Allah.”

Ternyata begitu lemah diri ini, kehidupan mereka tetap terang walau dijatuhkan dalam jurang yang gelap. Keimanan, ketaatan, kesabaran telah menjadikan wajah mereka bersinar, memberikan harapan baru bagi penghuni lainnya. Dimanapun mereka ditempatkan, disanalah bumi mereka tercinta (bumi tempat berdakwah)…

Nurtiyas || Abyad Al-Qosim

Advertisements