Berikan Aku CINTA #Part1

“BERIKAN AKU “CINTA”

Diantara kebahagian hidup yang paling banyak dicari adalah menemukan cinta yang sesungguhnya. Cinta yang memberikan ketenangan, ketentraman, dan keimanan. Siapa yang tak ingin menemukan hakikat cinta sesungguhnya. Cinta itu mengantarkan pada kenikmatan yang tiada terkira, didalamnya tumbuh kebaikan, mengalir kebahagiaan yang tiada ujungnya.

***

Gimana gue ngomongnya?”

Sempat tersenyum mendengar pertanyaan itu. Memang orang jatuh cinta itu sering aneh tingkahnya. Mulai dari pertanyaan kepo sampai dengan pertanyaan membingungkan.

Aku punya temen satu desa yang hobi ganti-ganti pacar.  Dia biasa dipanggil Ical, nama lengkapnya Rizal Abdiel Syarif. Setiap aku pulang kampung, selalu melihat ical ganti pacar. Walau aku dan Ical beda tongkrongan, tapi Ical salah satu teman baiku sejak kecil. Dan harusnya pertanyaan diatas tadi jauh lebih mudah dia jawab sendiri, daripada aku yang menjawab. Aku masih belum tau gimana caranya mengungkapkan cinta pada seorang wanita. Kerena memang tak pernah ku melakukannya. Entahlah kalian mendefinisikan seperti apa.

Ical suka dengan wanita berhijab, Nisa namanya. Anak perempuan dari Ustad Arif yang terkenal sholeh dikampung kami. Kali ini Ical tanya bukan dalam rangka untuk gebet cewek biasa, tapi bermaksud untuk mengkhitbah Nisa. Dia pengen nikah dengan Nisa. Aduh…. Aku fikir ini benar-benar pertanyaan dan permintaan berat. Aku tau Ical sedang memanfaatkan ke dekat-ku dengan ustad Arif. Mau gak mau aku coba bantu dia.

“Jadi gini cal.” Ajakku serius

“Lo tau kan kalau ustad Arif itu paling suka punya menantu yang sholeh. Lihat tuh kakaknya Nisa aja dinikahin sama ustad kondang. Nah jalan satu-satunya untuk bisa dapetin Nisa, lo harus merubah penampilan bro. Jangan kayak gini” Sambil ku tarik-tarik pakaiannya.

“Ah ogah… Ngapain merubah penampilan kalau akhlaknya gak baik” Pangkas Ical

“Nah itu lo tau. Maksud gue, lo rubah penampilan dan kembali kejalan yang bener. Sesekali coba berbuat yang lebih baik cal, biar hidup lebih terarah. Kalau Nisa menjadi ahli surga, sementara lo jadi Ahli neraka, gimana kalian bisa bersatu? ” Kataku sambil menasehati .

Sore itu ditutup dengan nasehat-nasehat ringan yang akhirnya bisa merubah jalan hidup ical. Mudah-mudahan bukan cuma karna ingin dapetin Nisa saja dia berubah. Memang hidayah tak bisa ditebak kapan datangnya. Aku juga berusaha sebaik mungkin menasehatinya, dan tentu hidayah itu datangnya hanya dari Allah. Dan aku sekarang senang melihat Ical yang mulai menunjukkan perubahan positif. Bermula dari belajar memberi salam saat berjumpa teman, sampai dengan menunjukkan kepeduliannya terhadap nasib umat.

Seusai sholat magrib, ustad Arif memanggilku untuk berbicara penting katanya. Aku fikir ini pasti persoalan ngaji. Karena biasanya aku yang menggantikan beliau mengajar. Dan keseharian-ku juga sering diskusi banyak tentang dakwah bersama beliau. Liburanku selama sebulan ini cukup banyak membantu ustad Arif dalam mengurus santri-santrinya. Memang aku juga termasuk orang yang masih dalam tahap pembenahan diri. Jadi ku coba luangkan waktu liburan ini untuk mengaji atau mengajar anak-anak di mushola At-Taubah. Mudah-mudahan dapat hidayah dan keberkahan hidup.

Assalamu’alaikum akhi,”

Wa’alaikumsalam wr.wb ustad.” Ku cium tangannya sebagai bentuk rasa hormatku padanya.

Afwan agak lama keluarnya, tadi ana sedang rembukan sama Nisa dan uminya”

Dalam hatiku penasaran, kira-kira rembukan apa ya mereka. Tapi segera ku tepis rasa penasaran itu dan ku anggukkan kepala. Kami berhadap-hadapan sambil duduk santai.

“Oh iya ust, gak papa.” Jawabku sambil menghilangkan penasaran

“Zaid, Antum gimana betah ngajar ngaji disini?

“Alhamdulillah betah ustad.” Aku tersenyum lepas.

Pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan ustad Arif. Tapi ada yang sedikit aneh. Nisa datang menyuguhkan teh untuk kami berdua. Dan kenapa dia duduk disebelah ustad ya. Padahal biasanya selepas memberi teh untuk tamu, Nisa langsung belakang. Ah lagi-lagi ku tepis semua rasa penasaranku.

“Gimana temen kamu yang dari kampung sebelah itu, sudah mulai rajin sholatnya?”

“Rizal Abdiel Syarif namanya bi…” Spontan Nisa menjawab, memeritahu abinya.

“Iya ustad, malahan dia sekarang udah mulai belajar membaca Al-Qur’an juga.” jawabku semangat.

Ustad Aris angguk-angguk senang mendengarnya. Semenjak ada permintaan dari Ical itu, aku sering bercerita dengan ustad Aris tentang Ical. Dari mulai dia masih nakal sampai sekarang yang sudah terlihat alim. Nisa kayaknya tadi juga terlihat antusias menyebut nama Ical. Jangan-jangan juga ada rasa.

“Alhamdulillah kalau gitu. antum harus jaga dia terus, biar jadi orang bener. Jaman sekarang anak muda kalau diatur susahnya minta ampun. Jadi perlu sedikit kesabaran untuk bisa menyadarkan mereka. ” Nasehat ustad.

“Iya Ustad.”

Mudah-mudahan ada kabar baik untuk Ical. Ucapku dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.

Setelah beberapa menit berbincang-bincang, tiba-tiba ustad mengalihkan pembicaraan.

“Thoyyib. Cukup. Jadi gini id, ana mengajak antum ketemu bukan untuk bahas Ical. tapi untuk bahas antum. Ana lihat antum kan sudah cukup umur, Pekerjaan juga sudah ada. Kapan antum nikahnya?” Tanya ustad dengan senyum yang membuatku malu.

Sejenak suasana menjadi hening, hanya suara jangkrik yang terdengar. krik…krik..krik… Nisa juga melihat kami dengan tersipu malu. Pertanyaan ustad jelas membuatku kaget. Aku tak tau harus menjawab apa. Bingung-bingung-dan bingung.

“Emmm, emmm, emmm, belum tau nih tad. Ana juga belum ada calon.” Jawabku sambil gigit bibir

“Ndok, kamu masuk kedalem aja ya” Tutur seorang ayah kepada anaknya. sangat lembut penuh cinta.

“Iya abi.” Jawabnya dengan suara lirih.

Nisa-pun pergi meninggalkan kami berdua. Hatiku malah tak karuhan, fikiranku kemana-mana. Kenapa aku jadi grogi begini, gak seperti biasanya. Ustad Arif berpindah duduk di dekatku sembari merangkul pundakku.

“Zaid, kalau antum ana nikahkan dengan Nisa gimana?”

Allahu Akbar… Allahu Akbar….

 

(To be continue…) Diterusin nanti ya ceritanya, lagi ada kerjaan datang… hehehe

Advertisements