Berikan Aku CINTA #Part2

Setelah semalam berbincang dengan ustad Arif, Aku masih belum bisa memberikan jawaban pasti. Adzan isya’ sudah berkumandang. dan kami memutuskan untuk sholat dulu. Karena masih terus kepikiran dengan perkataan ustad Arif, aku segera pulang tanpa pamit beliau. Perasaanku jelas campur aduk. Entah ini kabar baik atau kabar buruk. Ical pasti kecewa kalau sampai dengar hal ini. Dan aku juga khawatir dia kembali lagi ke jalan jahiliahnya. “Ya Allah berilah aku petunjuk.”

***

Pagi ini terlihat sangat cerah, awan biru berlapis kabut membuat suasana lebih tenang dan sejuk. Pemandangan hijau nan indah menjadi penawar kerinduan pada kampung halaman ini. Hari demi hari nampak pasti dilalui Ical dengan banyak perubahan positif. Dia sudah rajih sholat berjama’ah di mushola, baca qur’an-nya juga sudah lancar. Bahkan dia juga sudah bisa mengajak beberapa temannya untuk ikut ngaji. Tentu aku sangat senang melihatnya. Mudah-mudahan dia bisa istiqomah di jalan dakwah ini. Menjalani hidup selayaknya manusia yang diciptakan untuk beribadah kepada Robb-Nya, mencintai Rasul-Nya dan mengidam-idamkan surga-Nya. Seminggu lagi aku harus kembali ke jakarta, belum sempat menghilangkan rinduku kepada orang tua. Tapi mau tidak mau harus tetap aku jalani. Di sana lebih banyak amanah yang harus aku tuntaskan.

Kulihat lampu handphone menyala. Sebuah pesan masuk dari Ical.

===============================

Assalamu’alaikum saudaraku.

“Jadilah orang yang jujur. Karena orang yang suka berkata jujur akan memperoleh tiga hal: Kepercayaan, cinta, dan rasa hormat (Ali bin abi tholib)” Selamat beraktifitas. 🙂

#SMSTausiyah

By: Abdiel Syarif

===============================

Aku semakin terharu melihat perubahan ini. Ternyata akalku tak pernah sampai untuk memikirkan hal tersebut. Bisa-bisanya dia mengirimkan pesan ini untukku. Siapa yang mengajarinya. Masya Allah, ini benar-benar hidayah yang datang dari Allah. Dan kenapa setelah membaca pesan itu aku jadi merasa bersalah. Tak lama kemudia aku balas SMS-nya.

===============================

“Wa’alaikumsalam. wr.wb

Subhanallah. Nasehat yang indah. terima kasih sudah mengingatkan. :)” Balasku dalam SMS…

===============================

“Zaid. Nanti bisa ketemu? Tadi subuh gue ketemu Ust. Arif dan ada yang mau gue tanyakan ke lo. Jam 13.00 di tempat biasa ya.”

===============================

Warung mbok inah biasa menjadi tempat kami berdua nongkrong. Karena tempatnya enak. Kami bisa melihat pemandangan gunung dengan jelas. Pepohonan yang teduh menjadi pelengkap suasana. Sesekali kami berandai-andai. Ical sering bercerita tentang tekatnya mendapatkan Nisa. Aku biasanya bercerita pekerjaan di jakarta. Satu bulan bukanlah waktu yang lama, tetapi pulang kampung kali ini cukup berkesan. Banyak kebahagian dan juga banyak ujian. Aku memenuhi ajakan Ical untuk ketemuan siang nanti. Aku juga belum siap menyampaikan cerita semalam untuk Ical. Lebih baik ku simpan dahulu demi kebaikan dia.

***

Kulihat dia dari kejahuan sedang membaca Al-Qur’an. Suara lirih yang cukup merdu. Ical mungkin sudah menungguku dari tadi. karna sekarang sudah jam 13.28.

“Hayooooo, lagi tadarusan buat Nisa nih ye….”  Candaku mengagetkan

“Bisa aja lo id.” Dia malu-malu

“Salam dong, kan lo yang ngajari gue buat salam kalau ketemu teman.” Dia mengingatkan

“Oh iya. Assalamu’alaikum akhi Rizal Abdiel Syarif – ahli syurga, In shaa Allah. Aamiin” sambil ku tersenyum

“Wa’alaikumsalam kang Ahmad Zaid Al-Ghifari” jawabnya

“Eh akhi itu buat laki-laki ya?” Tanya dia penasaran

“Iya. itu artinya saudara laki-laki.” jawabku

“Wa’alaikumsalam akhi Ahmad Zaid Al-Ghifari.” dia ulangi lagi jawab salamnya sambil cengengesan.

Disela bercandaan kami, mbok inah seperti biasa segera menawarkan dagangannya.

“Kalian mau pesan apa? Teh anget, bandrek, susu jahe, roti bakar, jagung bakar, atau indome?”

Lengkap sudah penawaran mbok inah. Memang mbok inah ini orangnya sangat baik, ramah dan terkenal suka berbagi. Walau hanya punya warung berukuran kecil, tapi mbok inah sering berbagi ke warga-warga. Khususnya untuk para fakir miskin. Kalau ada orang mampir makan dan gak bawa uang, mbok inah selalu mempersilahkan tanpa bayar. “Kapan-kapan saja bayarnya, kalau sudah ada uang. Kalau gak ada uang juga gak papa gak bayar. Mbok ikhlas.” begitu jelasnya.

“Mbok. Jagung bakar dua ya.”

“Siap Mas ganteng…” Jawab gesit mbok inah

Kami segera bergegas duduk di bawah pohon yang teduh. Dikursi yang terbuat dari bambu, khas buatan pengrajin kampung kami. Tempat inilah yang biasa kami jadikan tempat untuk saling curhat.

“Tadi subuh gue diajak bicara sama ustad Aris. Ini mengenai kita. Dan maaf semalam gue sempat dengerin sedikit perbincangan kalian.”

Jantungku tiba-tiba seperti dipukul. Dadaku terasa sesak. Sejenak aku diam tanpa kata melihat wajah Ical. Jangan-jangan Ical sudah tahu kalau ustad Arif ingin menikahkan aku sama Nisa. Ya Allah gimana ini. Aku membayangkan Ical sedang marah dan memukulku keras.

“Id, id, lo kenapa?”  dia menyadarkanku dalam lamunan.

Ku gelengkan kepala “Oh gak papa.” Ical meneruskan ceritanya dan aku kembali menyimak.

“Kalian semalem ngomongin gue ya. eh maskudnya ngomongin ane. Hehehe… ane sempat dengerin pembicaraan kalian waktu lewat mau ambil wudhu. Kebetulan pintu cendela samping rumahnya ustad gak ketutup. Tapi ane gak lama denger langsung pergi. Takut dosa.” penjelasan Ical melegakanku. Alhamdulillah, Aku kira dia bakal ngomongin masalah nikah. ternyata dia belum tahu. huhhhhh…… Nafasku kembali tenang.

“Oh gitu. iya semalam kami sempet ngomongin antum cal” jawabku senyum canggung

“Jadi tadi subuh antum ngobrol apa sama ustad? tanyaku penasaran

“Antum? gue maksudnya??? jawabnya sambil kerutkan jidat

“Iya…. Antum itu artinya kamu” kembali ku terangkan

“Ohhhhh….” dia angguk-angguk seolah sudah mengerti.

“Iya nih id, sebentar lagi kan lo harus balik ke jakarta. Sementara biasanya yang sering bantuin ustad buat ngajar kan lo, masak ustad minta gue untuk gantiin.” jawabnya agak ragu.

“Bagus dong. Jadi lo bisa lebih deket dengan Nisa. Nisa kan biasanya juga ngajar. Tapi ingat, kalau lagi bantu orang, niatkan dulu sebagai ibadah. Karena kalau kita melakukan sesuatu karna Allah, insya Allah akan jadi kebaikan…”

“Iya id. Terima kasih ya lo udah banyak bantuin gue. Setidaknya dengan seperti ini gue merasa lebih baikan. Hati juga sering tenang. Mudah-mudahan gue gak membuat hati Nisa tergoda.”

***

Perasaan ini sungguh mengusikku. Jika saja dia bukan sahabatku, mungkin sudah ku terima tawaran ustad Aris. Aku juga tak mau terlalu lama bermaksiat dengan mata dan perasaanku. Entah kenapa sekarang setiap kali melihat Nisa, hatiku menjadi gelisah tapi bahagia. Diam-diam aku memperhatikannya. Walapun sekedar melihat dari kejahuan. Anak-anak kecil itu menjadi ceria manakala dekatnya. Sudah pantaslah dia untuk menjadi seorang ibu.

“Ya Allah, Jangan jadikan perasaan ini sebagai sumber maksiat. Jagalah hati ini agar tetap taat dengan syariat-Mu. Dan jagalah hatinya agar tidak tergoda dengan sikapku.”

 

(To be continue…)

Baca PART1 KLIK DISINI

 

 

 

Advertisements