Rindu umi dan ketaatan

Rizal… Umi tak lagi bisa menjaga-mu, abi-mu juga sudah tiada. Hanya saja umi berpesan, jadilah anak yang bisa memuliakan kedua orang tua. Kalau Rizal terus menerus seperti ini, mungkin kami kelak yang akan kau antar ke NERAKA. Terima kasih jika itu yang kamu inginkan. Tapi tak adakah hal yang lebih baik yang bisa kamu berikan kepada kami, kecuali tempat yang menakutkan itu?
Engkau tak punya kesempatan untuk memuliakan Abi-mu saat masih hidup. Dunia itu membuatmu buta. Berhentilah hidup dengan teman-temanmu, dari hal yang penuh maksiat dan hura-hura. Umi teringat wajahmu yang tampak pucat, begitu juga tubuhmu yang kering. Ambillah wudhu dan bersucilah, Robb-mu menanti dalam setiap sujud dan do’a. Bertaubatlah dengan sebenar-benarnya taubat…”
***
Mimpi itu membuat Rizal harus hijrah mencari ketaatan yang hilang. Kini ia hidup seorang diri. Mencari umi yang lama ditinggalkan. Ternyata Lebih berat kehilangan orang tuanya ketimbang meninggalkan teman-temannya. Kesadaran itu yang membawanya hanyut dalam pencarian hakikat kehidupan. 
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manuasia melaikan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku” (QS. Adzariyat: 56) 
Dan jalan inilah yang akhirnya dipilih untuk menebus semua kesalahan. “Rindu umi dan ketaatan.” Karena sedikitpun tak ingin melihat orang yang dicintainya di telan api neraka. Maka “Rizal janji umi, abi. Rizal akan memberi jubah kemuliaan untuk umi dan abi.” Tangisan dalam do’a…
Bagaimana perjuangan Rizal dalam mencari umi & ketaatannya? 

Cuplikan cerpen “Rindu umi & ketaatan” by Abyad Al-Qosim 

Kunjungi website http://www.nurtiyas.wordpress.com 

Jangan lupa bantu like/share/comment ya… 😊

Advertisements