Rihlah dengan jamur tiram

Desember 2014 – Setelah menembus dinginnya puncak dari kemacetanpanjang, akhirnya bisa sampai di cipanas tempat kami rihlah. Masya Allah… ternyata keindahan Alam negeri ini telah membuat nanar mataku. Gunung dan bukit seolah sebagai pelindung desa ini. Kebun teh terbentang luas merata nampak apik. Sayur-sayuran yang hijau membuat mata lebih segar memandang.

“Maka nikmat tuhan mana lagi yang hendak kalian dustakan?”
Begitulah Allah bertanya, sebagai teguran bahwasaanya manusia sering kali mengingkari nikmat-Nya.

Malam itu kami menginap di tempat budidaya jamur tiram milik Ust. Ridwan. Beliau kebetulan juga sebagaipimpinan kami diperusahaan. Setelah diguyur hujan, dingin mulai berkurang. Apalagi ditambah hidangan susu coklat, yang membuat badan kami terasa lebih hangat.Waktu sudah menunjukkan pukul 22.30. Sebelum kami tidur, sejenak ta’arufan. Kebetulan saya juga baru bertemu dengan mereka. Dilanjutkan taujih dari Ust. Ridwan yang berusaha memotivasi kami semua. Bahasan surat fatir ayat 29-30 seolah telah membakarsemangat kami. Walaupun ada beberapa orang yang sudah mulai menunduk karna mengantuk…:D“

Mari kita akhiri dengan do’a penutup majelis”

Setelah pukul 23.55 kami memutuskan untuk beristirahat.
Cerita ke esokan harinya dilanjutin nanti ya, lagi ada tamu…:D

Advertisements