Amradu al ummah fii da’wah

Ikhwah fillah, ada penyakit dalam dakwah ini yg apabila tidak diterapi maka dapat berujung pada masalah amal jama’i. Dari mana penyakit itu timbul dan apa penyebabnya?

Penyakit itu bersumber dari sikap infiradi atau individual. Justifikasi-nya bisa dibunyikan “Bibit-bibit penyakit itu bisa saja ada pada diri kita masing2.” Jadi sangat mungkin masalah dakwah itu muncul karena perilaku dan amalan kita hari ini.

Ana ingin kita mengingat kembali tentang hal ini: penyakit individu itu ada dua macam:
1. Mental
2. Amal

Dari sisi mental ini diantaranya adalah sikap infi’aliyyah (mental emisional), sedikit tidak dilibatkan dalam kegiatan ngambek, sedikit disinggung marah, sedikit ditinggal marah, dakwah malah menjadi serampangan dan tidak bil hikmah.

Lalu ada wijahiyyah atau terpaku dengan sosok. Ini juga penyakit mental kader. Seorang kader hanya mau mengaji kalau ustadz-ahnya si fulan, semangat ngajinya kalau sama si fulan, mau bergerak kalau sama si fulan, dakwah hanya bisa jalan kalau ada si fulan, tidak ada pewarisan dlm dakwah adalah salah kaprah. Kader yg masih punya mental figuritas harus diterapi segera ikhwah.

Selanjutnya ada iqtizazziyyah wa intiqosiyyah. Merasa bahwa dirinya hebat dan meremehkan kemampuan orang lain adalah jelas penyakit.
Tetaplah rendah hati, tawadu’, dan jangan meninggikan suara melebihi Allah dan Rasul-nya. “Ya Ayyuhaladi naamanu latuqoddimu baina yadayillahi wa rasulihi watakullah, innallaha sami’un ‘alim” (QS. Al-Hujarat : 1)

Sementara kalau secara mental sudah bermasalah, memungkinkan secara amal juga akan ikut terinfeksi.

Dapat amanah dilakukan ala kadarnya, akhirnya berujung pada ‘adamul mas’uliyah, tidak bertanggungjawab.
Juziyyah, bersikap parsial. Memilih2 pekerjaan dakwah, mengkotak-kotakan islam. Padahal jelas islam itu samil, mengatur semua dimensi kehidupan. Dari yg terlihat sampai dengan yg ghoib.

Kalau sudah seperti itu tinggal taqlidiyyah, lembek, taqlid buta “ngikut aja deh ane akh-ukh.” Disuruh apapun mau, dan tidak mau mencari tahu atau berusaha memahami, dampaknya apa? Kematangan fikroh terganggu, sulit memahami esensi dakwah dan berujung pada ‘adamul basyirah, tidak bisa berbuat adil saat menjadi pemimpin.

Ayyuhal ikhwah, ini barang kali bisa menjadi refleksi dan muhasabah kita semua khususnya untuk ana pribadi. Semoga Allah jauhkan kita dari amradul ummah dan mari senantiasa kuatkan amal jama’i kita, agar kita dan dakwah ini bisa menjadi barokah.
Wallahu a’lam

Jakarta
Nurtiyas
Abyad Al-qosim

Advertisements