Bait dan Syair Kerinduan

Oleh: Abyad Al-Qosim

Pertama kalinya aku melihat dia dari kesucian hati yang tergambar jelas karena ketertarikannya mempelajari agama. Kadang aku sendiri yang meragu, apakah bisa orang sepertiku dapat meluluhkan hati wanita yang menjunjung tinggi kemuliaan akhlaknya. Dia sangat malu dan sesekali salah tingkah. Mungkin karena hari itu adalah awal dari pertemuannya. Disajikan secangkir minuman dengan getaran di tangan hingga menembus dada.

Aku memberi pesan melalui seorang perantara begitu juga dia membawa harapan dengan keikhlasan. Sudi juga mendatangkan balasan. Aku tak perlu lama menunggu tapi hati justru merasa khawatir akan terbawa pada arus yang lebih deras menghujam. Yaitu karena semakin mudahnya bersaling sapa. Hati mulai tak karuhan saat benih-benih kerinduan tak lagi dapat ditahan. Tumbuh begitu saja, menjalar mengikat batin sampai mendatangkan dahaga. Untung saja dia ingat dan masih menjaga kemuliaan dirinya.

Bilamana ada kesempatan menatap wajahnya, aku akan terus memandangnya sampai dia merasa malu. Kemudian aku tersenyum dihadapannya dan berkata “Katakanlah apa yang ingin kamu katakan”. Sambil aku terus meyakinkan, “katakanlah”. Kini aku dan dia telah menjadi kita.  Tentu jantung berdetak lebih kencang seperti menaiki pacuan kuda.

Rindu adalah sahabat cinta. Mereka selalu bersama menjadi dua unsur yang saling melengkapi. Cinta mendatangkan kerinduan, lalu rindu kembali berbuah menjadi cinta. Tetapi jangan salah sangka apalagi menyalahi hakikat cinta. Karena cinta bukan sekedar rangkaian hikayat yang bisa menusuk jantung hati manusia, melainkan dapat menghancurkan harapan bila salah menempatkannya. Bait dan syair kerinduan merupakan bahasa yang indah. Indah seperti hikayat, puisi, nada-nada, lantunan ayat-ayat suci yang mashur tak ada tandingannya.

Advertisements