Cahaya dan Bumi

Oleh: Abyad Al-Qosim

Diantara perjalanan Mencari Cahaya Kehidupan, engkau tetap membutuhkan bumi untuk berpijak. Sejatinya itulah tanda kekuasaan Allah yang patut disyukuri.  Jangan sesekali melupakan kesempatan waktu. Karena waktu begitu berharga. Waktu adalah teman sejati. Dia akan terus mengikuti dan tak mau berhenti. Selama masih ada denyut nadi, detak jantung, hembusan nafas, pada saat itu pula semua hal akan tercatat oleh waktu.

Waktu menjadi saksi yang jarang disadari, hanya saja engkau akan mengingatnya kembali. “Oh iya dahulu aku pernah bersama dia. Aku pernah mengalimi masa-masa itu. Sungguh sangat sakit, dan  bla bla bla…” Entah apalagi yang dapat diingat. Waktu benar-benar menjadi saksi dan bumi sebagi tempat melukis sejarah dengan tinta emas atau pisau yang berlumur darah. Saat engkau bahagia bagaimana cara mencurahkannya dan saat kecewa bagaimana cara menguburnya. Waktu kembali mencatat seberapa kuat engkau bertahan dengan kebahagiaan dan kekecewaan.

Lalu saya ingin menjelaskan keterkaitaan antara cahaya dan bumi. Cahaya berfilsafat dengan keberadaannnya yang terang-benderang. Menjadi lambang kesadaran, cahaya berjalan lurus menyingkirkan kegelapan. Di lautan malam yang dalam, cahaya menembus kelam menjelma bintang-bintang. Di langit, cahaya yang diwakili oleh matahari, bintang terdekat dengan bumi, mengirimkan terang ke bumi, membuat kita bisa memandang jutaan benda yang berwarna-warni.

Itulah sebabnya bumi selalu terlihat indah merona dengan warna-warni keajaiban. Cahaya mampu memberikan harapan yang tak kunjung putus di mata, karena esok hari dia akan tetap datang. Begitupun saat malam keindahan berpindah di atap langit-langit. Bersama bintang-bintang dan rembulan. Setelah engkau disibukkan dengan segudang aktivitas yang melelahkan, nyatanya cahaya tetap mampu memberikan keindahan dikala malam. Kembali saya ingatkan bahwa semua itu adalah keajaiban. Sebagaimana Allah telah menyatukan hati seorang laki-laki dan perempuan sebagai tanda kekuasaan-Nya.

Advertisements