Menulis seperti belajar keikhlasan

Oleh: Abyad Al-Qosim

Allahu Akbar… menulis itu seperti kita belajar keikhlasan. Tangan kita diajak terus berkarya namun mulut tak pernah bicara. Sekalipun dipaksa bicara, hanya suara lirih yang terdengar. Hati yang terus tergerak memusatkan pada fikiran lalu dituangkan dalam tulisan. Setiap orang mampu untuk menulis, tapi tidak semuanya bisa menjadi penulis. Menulis juga seperti belajar kehidupan. Setiap orang berhak mendapatkan kehidupan tapi tidak semua orang bisa berhasil menjalani kehidupan.

Subhanallah… Tulisan merupakan karya yang akan lebih lama mengabadi bersama masalalu, perasaan cinta, gelisah, ataupun cita-cita yang menggunung. Memang tidak mudah untuk menghasilkan sebuah karya, namun buka berarti tidak mungkin untuk kita bisa berkarya. Tuhan sungguh adil, menciptakan manusia dengan memberi akal. Oleh karenanya manusia lebih sempurna dari makhluk lainnya. Tapi jangan salah sangka, andai manusia tak lagi berakal, mereka jauh lebih hina dari binatang ternak.

Alhamdulillah… Maka bersyukurlah dengan apa yang telah tuhan berikan kepada kita. Jangan mengisi hidup dengan kegelapan, apalagi memaksakan diri menjadi manusia tak berguna. Menghabiskan waktu hanya untuk merugikan orang lain. Dimana maha karya yang akan kita perlihatkan kepada tuhan? Tapi tenanglah kita tidak disuruh memperlihatkan karya-karya kita. Karena Tuhan sudah memiliki catatan amal hamba-hambanya. Lebih lengkap dan akan jauh bisa membuat jantung manusia rontok seketika.

Bismillah… Tulislah sedikit demi sedikit agar kita bisa melihat sejauh mana kita mampu menjalani hidup ini. Apakah lembaran demi lembaran akan menjadi kisah romantisme, kisah petualang, kisah penderitaan, kisah campuran ataukah akan menjadi kabar gembira untuk hari akhir kelak. Ya… kita bisa melihat kapan saja kita mau. Sebagai gambaran dan bahan muhasabah diri.

Lailaha ilallah… Selanjutnya kita berharap dengan adanya karya yang sudah dituangkan dalam pena, maka mengeringlah sudah tinta itu dan akan berubah menjadi sejarah. Tidak mengapa apabila sejarah itu tak banyak dikenal orang. Karena bukan eksistensi semata yang dicari seorang penulis. Tetapi hati yang bisa memberi inspirasi.

Selamat  menulis dan terus belajar menulis…

Advertisements