Doa bukanlah wujud ketidakberdayaan

Do’a bukanlah wujud ketidakberdayaan, tapi sesuatu yang membuat ketidakberdayaan menjadi kekuatan. Do’a merupakan perisai atas musibah, do’a sebagai kekuatan orang-orang beriman dalam menjaga diri dan ketaatan. Doa mampu membendung musibah apabila lebih kuat dari musibah. Tetapi apabila musibah lebih kuat dari pada do’a, maka musibah akan menimpa.

Setiap do’a yang ikhlas mengumpulkan energy illah yang bisa menggerakaan jasad menuju ikhtiar. Jadi ciri do’a yang di ijabah itu adalah yang bisa merubah manusia pada perbaikan. Sehingga seseorang yang mendapatkan energy dari do’a akan menggerakkan dirinya menuju perbaikan sebagaimana yang dibutuhkan dan sesuai fitrah manusia.

Seseorang yang melakukan ikhtiar tanpa menghadirkaan do’a, lama kelamaan akan kelelahan. Karena yang ia coba hidupkan bukanlah sumber utama kekuatan, melainkan kekuatan sesaat yang energinya sangat terbatas. Seperti halnya seseorang mendapati motornya sedang mogok, sementara tujuannya masih sangat jauh. Maka sikap yang diambil seharusnya bukan mendorong motor tersebut sampai tujuan, akan tetapi berusaha mencari tahu penyebab mogoknya motor, lalu memperbaikinya. Apabila ia memilih mendorong terus menerus, bisa dipastikan ia akan kelelahan ditengah jalan dan bisa saja berujung pada keputusasaan.

Itulah sebabnya kenapa do’a menjadi sangat penting, sebab do’a memberikan harapan, sebab do’a adalah sarana interaksi manusia menuju robb-nya, yang menggenggam semua kekuatan. Tuhan semesta alam, yang mengatur segala ciptaan-Nya dengan benar tanpa ada kesia-siaan.

Wallahu a’lam

NURTIYAS

Advertisements