Spirit yang dirindukan, hijrah

Tak henti-hentinya ia bersyukur atas kesempatan yang Allah berikan. Terutama bisa merasakan kembali manisnya iman, setelah sekian tahun menodai diri dengan pergaulan bebas. Masa SMA, masa dimana tidak ada keindahan dimata agama. Begitulah adanya masa lalunya. Walaupun tetap menunaikan sholat, tapi maksiat tak pernah ditinggalkan. Kini ia hanya bisa menjadikan semua itu sebagai tarbiyah dari rangkaian perjalanan hidup untuk diambil ibroh dan hikmahnya.

Penyesalan pasti ada. Kalaupun pada saat itu tahu bagaimana cara mencari jalan menuju kebahagian hidup hakiki, mungkin sejak dulu ia lebih memilih untuk mengikutinya. Tapi sayang realita berkata lain. Dan iman yang lemah tak mampu menahan derasnya godaan yang terus menerus menghantam hati dan fikiran. Nafsu, sikap ujubriya’, berhura-hura, sampai dengan bermaksiat telah mengikis iman sampai terjadi kemerosotan moral.

Lagi-lagi itulah masa lalunya. Dan ada keindahan masa lalu yang akhirnya muncul kembali dalam spirit yang dirindukan yaitu berjalan diatas jalan dakwah. Spirit itu kini menggerakkan kaki untuk berhijrah, melatih tangan untuk berkarya, memikat hati untuk berdzikir, dan menghias mata untuk melihat bahtera yang indah. Tapi semua itu tak pernah terjadi kecuali atas kehendak-Nya. Setidaknya saat ini ia tahu bagaimana seharusnya menjalani hidup. Berat memang. Tapi itulah hakikat kehidupan.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” (QS. Adzariyat:56)

Berkat dorongan saudara seiman yang tak pernah berhenti memberikan suntikan ruhiyah, murobbi yang terus menerus mengajarkan ilmunya tanpa mengenal kata lelah, saudara diluar yang selalu menginspirasi  dan kedua orang tua yang hampir setiap hari mengingatkan anaknya dalam do’a, akhirnya ia bisa kembali optimis menjalani hidup dengan dakwah ini. Dakwah yang di idam-idamkan bisa mengantar ke jannah. (diary dakwah – 2013)

Advertisements