Dalam Hijrah Ku Bertaubat

~ TAK HENTI BERSYUKUR ~

Tak henti-hentinya aku bersyukur atas kesempatan yang Allah berikan. Terutama bisa merasakan kembali manisnya iman, setelah sekian tahun menodai diri dengan pergaulan bebas. Masa SMA, masa dimana tidak ada keindahan dimata agama. Begitulah adanya masa lalu-ku. Walaupun tetap rajin sholat, tapi maksiat tak pernah ku ketinggalan. Kini hanya bisa menjadikan itu semua sebagai rangkaian dari perjalanan hidup untuk diambil ibrah dan hikmahnya.

Penyesalan pasti ada. Kalaupun pada saat itu aku tahu bagaimana cara mencari jalan menuju kebahagian hidup hakiki, mungkin sejak dulu aku lebih memilih untuk mengikutinya. Tapi sayang realita berkata lain. Dan iman yang lemah tak mampu menahan derasnya godaan yang terus menerus menghantam hati dan fikiran. Nafsu, sikap ujub dan riya’, berhura-hura, sampai dengan bermaksiat telah mengikis iman sampai terjadi kemerosotan moral.

Lagi-lagi ku katakan itulah masa lalu. Dan ada keindahan masa lalu yang akhirnya muncul kembali dalam spirit yang dirindukan. Spirit itu kini menggerakkan kaki untuk berhijrah, melatih tangan untuk berkarya, memikat hati untuk berdzikir, dan menghias mata untuk melihat bahtera yang indah. Tapi semua itu tak pernah terjadi kecuali atas kehendak-Nya. Setidaknya saat ini aku  tahu bagaimana seharusnya menjalani hidup. Berat memang. Tapi itulah hakikat kehidupan.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” (QS. Adzariyat:56)

Berkat dorongan ikhwah fillah yang tak henti-hentinya memberikan suntikan ruhiyah, murobbi yang terus menerus mengajarkan ilmunya tanpa kenal lelah, saudara diluar yang selalu menginspirasi  dan kedua orang tua yang hampir setiap hari mengingatkan anaknya dalam do’a, akhirnya aku bisa kembali optimis menjalani hidup dengan dakwah ini. Dakwah yang diidam-idamkan bisa mengantar ke jannah.

***

~ AIR MATA RIZAL ~

Tahun 2010 diusia 18 tahun-ku . Setelah berunding semalaman, keluarga sepakat bahwa hari ini aku harus berangkat ke Jakarta. Ibu dan Bapak terlihat berat melepasku. Terlihat dari matanya yang berkaca-kaca. Aku mulai mengerti kenapa dulu mereka begitu keras mendidikku, apalagi kalau aku suka minta uang sesuka hati hanya untuk main dengan temen-temen tongkrongan. Huhhhh… Pantas mereka selalu marah-marah.

Pagi itu Ibu menumpahkan kecemasannya: “Rizal, sebenarnya ibu sangat khawatir jika harus menitipkanmu di rumah mbak ratna, tapi tidak ada pilihan lain. Kamu juga sudah tau sendiri bagaimana sikap Bapakmu. Gak bisa ditolak. Ini ibu ada sedikit uang buat jajan disana. Semalam ibu jual kalung, tapi jangan bilang-bilang Bapak ya.”

Sungguh aku tak mampu menahan haru. Betapa bodahnya aku, buta dengan kasih sayang mereka selama ini. Mata nanar tak bisa ku bendung. Air mata mengalir terurai dipipi. Kulihat Ibu begitu tegar, tak mau terlihat lemah didepan anaknya.

Mobil Trevel milik pak Asep sudah datang menjemput. Waktunya berangkat meninggalkan kampung halaman.

“Ibu, Bapak, Anisa adikku yang cantik, Rizal berangkat dulu ya. ucapku lirih tersedu.

“Ibu maafin Rizal, kalau selama ini sering merepotkan ibu. Bapak Maafkan Rizal juga, Rizal sudah banyak menyusahkan Bapak.” Ku cium tangan mereka satu persatu.

Sebelumnya aku tak pernah seperti ini. Tapi entah kenapa perpisahan itu benar-benar menguras air mataku. Mereka memelukku, dan  tak sepatah katapun mereka berbicara. Seolah hanya mata yang mampu bicara, tanpa kata penuh makna.

“Anisa, kamu jangan lupa belajar ya. Biar ranking satu terus.” Ku peluk dan ku cium adikku yang pintar itu.

Begitulah aku harus melepas mereka. Orang-orang yang akan terus ku sayangi sampai akhir hayat. Insya Allah. Walau berat, tapi harus dijalani. Masa depan sudah harus mulai diperjuangkan. “kerja keras biar dapat rejeki yang banyak dan bisa mandiri. Ibadah yang benar biar dapat hidayah juga.” Itu pesan Bapak. Tak ingin lagi mengecewakan orang tua. Ku bulatkan tekat, “Bismillahirahmanirrahim, aku pasti bisa.”

***

~PERJALANAN MENUJU KOTA METROPOLITAN~

To be continue…

Advertisements